Kisah 2008
Awal tahun ini gw dicurhatin temen gw, sebut aja namanya Key (dia cowo ya), tentang cewenya yang biasa dipanggil Gege. Key bercerita tentang hubungannya dg Gege yang udah menginjak 3,5 tahun. Mereka berkenalan di dunia maya sebenarnya, tapi bukan FS ato facebook tapi masih jamannya miRC itulah sekitar akhir dekade 90-an tp mereka baru kopi darat pertengahan tahun 2004. Saat mereka mulai ketemu di dunia maya, mereka masing2 masih punya pacar sebenarnya, bahkan menurut pengakuan Key, pacarnya saat itu bahkan curiga ama Gege yang jadi temen chatting rutin Key.
Pertengahan 2004 itu mereka ketemu pas mereka berdua udah pada jomblo dan baru kena "penyakit campak" dari pacar2nya (ato kita sebut aja their X’s). Eh, mungkin dasar jodoh ya, ga lama mereka pacaran dan udah bertahan ampe awal tahun ini, bahkan mereka udah merencanakan menikah sebenarnya walo masih sebatas rencana dan wacana.
Balik lagi ke curhatannya Key… Dia curhat walopun hubungannya dgn Key udah masuk fase lama tp blm lama bgt, dia ngerasa kalo Gege masih ga percaya ama ketulusan dan kesetiaan Key ama Gege selama ini. Bahkan akhir2 ini, gejala berantem gara2 ketidakpercayaan itu menjadi2, bisa seminggu 3 kali katanya, udah hampir kaya minum obat (padahal minum obat mah 3x sehari hehehe).
Kalo dr cerita Key sih, katanya hal ini dipicu trauma masa lalu Gege yang pernah disakitin cowo, tp Key beranggapan trauma itu cuma masalah pikiran aja dan pikiran kita yang mengontrol, kita yang berkuasa atas pikiran kita sendiri. Kalo kita bisa berpikir positif atas hubungan kita maka aura positifnya akan mempengaruhi hubungannya itu begitupun sebaliknya, begitu argumen Key. Di satu sisi gw setuju banget dgn argumen Key, pikiran itu MILIK kita dan karenanya kita bisa mengontrol pikiran kita ke arah manapun kita mau, positif atau negatif. Gw juga percaya kalo kita menghabiskan energi untuk mikir hal2 negatif, ya efeknya ato outputnya ke hidup kita atau dlm kasus Key ini hubungannya dg Gege, ya negatif. Menurut Key, Gege yang msh mengaku trauma krn pernah disakiti, terlalu menghabiskan waktu dgn berpikir negatif ttg diri Key yang berakibat semakin seringnya mereka bertengkar gara2 hal yang sama.
Ketika gw tanya Key sebenarnya perasaan dia ke Gege gimana, dia menjawab dgn lugas kalo dia sangat mencintai Gege, masih dgn tulus menunggu Gege yang sedang sibuk dgn karir barunya, dan tetap dgn rencana awal untuk menikahi permpuan yang sudah dikenalkan ke ibunya sebagai calon mantu. Oiya, Key juga menjelaskan ketakutan Gege akan lingkungan kerja Key dan pertemanan Key dgn banyak perempuan. Gege bukan tipe perempuan yang percaya kalo lakilaki dan perempuan bisa berteman dgn tulus ato kalo ga salah istilah kerennya platonic love (bener ga ya? hahahaha), sementara Key adalah lakilaki yang sedari kecil terbiasa dikelilingi perempuan, mulai dari adik, sepupu, ponakan, teman dan sahabat dan menurut pengakuan Key, dia belum pernah sekalipun jatuh cinta pada salah satu sahabat perempuannya itu bahkan setelah belasan tahun pertemanan.
Key mengaku kalo dia selalu berusaha untuk mengenalkan dan mengajak Gege bertemu dgn teman dan sahabatnya dan juga lingkungan pergaulannya yang menurut Gege sangat hedonis. Biar dia ngeliat gw kaya gimana sebenarnya, begitu ujar Key suatu waktu. Menurut gw sih, yang udah jadi temen Key hampir sepanjang hidup dia, ya Key tetaplah Key yang dulu gw kenal, walopun dia bukan sosok manusia suci di tengah kehidupan hedonis di lingkungan kerja dia sekarang, dia tetaplah sosok yang baik2 menurut gw karena dia tidak merokok, tidak minum alkohol apalagi mengonsumsi obat2an terlarang dari dulu ampe sekarang.
So, dalam kasus ini sih gw akan memihak Key dibandingin Gege, karena menurut gw, kita tidak bisa selamanya berlindung di balik alasan trauma, apapun traumanya. Life MUST go on mate. Walo matematika mengajarkan negatif x negatif = positif, tapi dalam hidup sih kayanya teori ini ga berlaku karena negatif x negatif ya dobel negatifnya. Jadi mendingan kan, berpikir positif, jalani dan nikmati hidup walo senantiasa waspada akan semua kemungkinan terburuk dari banyak hal di hidup kita tapi waspada bukan berarti curiga, menuduh dan tidak percaya apalagi pada pasangan kita yang udah direncanakan sebagai calon suami/istri nanti. Bukan begitu?
Silakan nilai sendiri para sidang pembaca yang budiman…
4 comments.
